Livor Mortis : Tragedi Kemanusiaan di Balik Institusi Kesehatan

5:27 PM

(c) here

Kali ini saya ingin menyampah lagi tentang buku yang baru selesai dibaca.  Jam terbang membaca saya masih cetek. Mungkin ini novel pertama yang dibaca lagi setelah hampir tiga tahun tidak pernah membaca novel. 

Menemukan novel ini sama seperti dapat sms banking kalau saldo bertambah beberapa digit pas lagi tanggal tua. Well, itu jarang sekali terjadi sih… Kemungkinannya itu 0,00000000000001 %. Nah, perjuangan saya untuk mendapatkan novel ini bisa dibilang lumayan berliku. Mulai dari putar-putar kota Surakarta selama 3 hari (belakangan baru diketahui, saya salah alamat) sampai saldo rekening menguap begitu saja karena gaptek pake token dan internet banking waktu mau transfer uang buat beli novel ini. Iya ternyata toko bukunya ada di dekat Semarang. Pantas gak ketemu di dalam kota Surakarta. Karena jaraknya jauh, makanya saya belinya lewat internet.

Well, ini bukan resensi ya. Saya masih awam masalah resensi novel. Anggap saja saya hanya sedang menyampah *sungkemin penulisnya*


Karena saya juga berkecimpung di dunia medis, makanya saya sudah bosan dengan novel yang fokus pada profesi dokter. Saya ingin mencari sudut pandang lain… Kalau novel tentang dokter kan sudah banyak beredar. Berdasarkan hemat saya (cielah bahasamu Mez...), novel Indonesia yang mengusung tema profesi di dunia kesehatan selain dokter itu nyaris tidak ada. Saya sempat frustasi karena google tidak bisa menampilkan hasil pencarian yang relevan. Mungkin juga keyword yang saya gunakan kurang tepat. Sampai pada akhirnya saya dipertemukan dengan novel Livor Mortis ini.

Livor Mortis : Tragedi Kemanusiaan di Balik Institusi Kesehatan. Dari judulnya saja saya sudah bernafsu untuk membelinya. Novel ini bercerita tentang seorang perawat bernama Fatiya yang baru lulus Diploma III. Yup, akhirnya saya menemukan novel yang menawarkan sudut pandang lain. Anti mainstream bro… sudah bosan dengan kehidupan para dokter yang selalu diceritakan dalam novel. 

Menariknya lagi, penulisnya mengaku bahwa gambaran tentang Institusi Kesehatan yang dikisahkan dalam novel ini adalah fakta yang difiksikan dengan tambahan bumbu penyedap. Well, memang beberapa kali terlihat jelas bumbu penyedap tersebut. Walau demikian, gambaran tentang rumah sakit dan pelayanannya benar-benar seperti yang terjadi di lapangan (bukan berarti semua rumah sakit demikian).

Bagaimana Fatiya menghadapi tuntutan pekerjaan yang bertentangan dengan prinsip dan agama yang dianutnya? Bagaimana pelayanan rumah sakit terhadap orang miskin dan orang kaya? Bagaimana sebuah rumah sakit begitu ketakutan dengan malpraktik yang ketahuan publik? Semuanya terasa nyata bagi saya pribadi karena pernah berhadapan dengan beberapa situasi tersebut. 

Bagaimana langkah Fatiya selanjutnya setelah dihadapkan dengan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya?

Dari ceritanya, saya suka karena benar-benar baru. Untuk mahasiswa/i khususnya perawat, wajib baca deh… :)  

You Might Also Like

0 komentar

Berkomentarlah yang baik dan sopan. Jangan komentar pake bahasa gaib.

Jumlah Mantan

Google+

Teman-teman Bloggers