4 Kesalahan Persepsi Masyarakat Indonesia terhadap Papua yang Masih Sering Terjadi

1:12 AM

Beberapa waktu lalu, saya bertemu sama dua orang teman (semasa SMA) di kota Yogyakarta, memenuhi janji-janji palsu saya selama ini buat ketemuan. Padahal kota Yogyakarta dan kota tempat saya menumpang tidur saat ini sangat dekat. Jaraknya kira-kira 1 bulan naik pesawat.

Kami sudah cukup lama tidak bertemu sejak lulus SMA tahun seribu sembilan ratus sekian. Jadi kami adalah alumni SMA dari Papua. Pas ketemu, suasananya cukup haru, kami berjabat tangan, saling bertatapan, tersenyum lalu berpelukan dan menangis bersama-sama di pinggir jalan.

Tidak... Kami tidak secewek itu!

Nah, pas ingat-ingat lagi pertemuan kami dan topik tentang obrolan kami malam itu, jari-jari saya jadi gatal buat menulis postingan ini...

PAPUA... Ada banyak yang bisa diceritakan dari sana. Pulau paling timur dari Indonesia ini memang menyimpan banyak cerita. Ini kalo pulau-pulau besar di Indonesia diibaratkan anak-anak bersaudara yang tidur seranjang, Sumatera dan Papua adalah dua orang kakak yang tidur di ujung ranjang, menjaga adik-adiknya Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Maluku (yang ga disebut jangan marah) biar tidak jatuh dari tempat tidur.

Keren ya... keren ya...

Tahun 2015 gitu lho. Sebentar lagi Indonesia ulang tahun yang ke-70 dan masih aja ada orang yang salah persepsinya terhadap kakak Papua. Saya tidak bilang SEMUA masyarakat Indonesia, tapi mungkin hanya untuk mereka yang tidak pernah ke Papua. Orang-orang ini tidak salah, mereka hanya kurang informasi. Makanya semoga blog saya ini dibaca oleh seluruh masyarakat Indonesia biar gak ada lagi yang salah persepsi.

Amin. *fakir trafik*

Berdasarkan pengalaman pribadi dan teman-teman, berikut ini adalah kesalahan persepsi masyarakat Indonesia terhadap Papua yang masih sering terjadi.

1. Papua, Ambon dan NTT Itu Sama! Satu Pulau!

(c) here

Persepsi ini mungkin muncul karena orang Papua, Ambon dan NTT punya kulit yang lebih gelap ketimbang orang-orang dari pulau lain di Indonesia. Rambut mereka juga hampir sama, keriting-keriting.

Padahal coba lihat Peta. Papua dan Ambon itu berbeda pulau. Budaya mereka juga berbeda. Apalagi NTT... NTT ama Papua kejauhan. Justru lebih dekat NTT ama Sulawesi.

2. Di Papua, Orang-orangnya Masih Primitif!
Primitif Yaoloh... Masih ada orang yang mengira orang-orang di Papua hidupnya masih kayak manusia purba, tinggal di gua-gua, bikin api pake gesekan batu, kanibal, dll. Persepsi ini tidak sepenuhnya salah. Masih banyak saudara-saudara kita yang tinggal di hutan yang terisolasi, jauh dari kehidupan modern. Bahkan bukan cuma di Papua, di Kalimantan juga ada. Di Jawa juga masih ada orang yang tinggal di desa-desa terpencil.

Di kota-kota di Papua, infrastrukturnya sudah cukup memadai. Sekolah-sekolahnya udah bagus, rumah sakitnya juga sudah bagus. Orang-orang di sana kalo ke luar rumah udah pake baju lengkap ama daleman. Jadi masyarakat di Papua itu sudah modern kecuali yang di pedalaman. Nah, ini sama aja kayak pulau-pulau yang lain. Kehidupan masyarakat pedalaman di seluruh Indonesia memang gitu, masih tertinggal.

Makanya kalo kamu masih tertinggal ama masa lalu bersama mantan, berarti kamu masih primitif. Move on dong...

3. Kalo Kerja di Papua Bisa Kaya
Yang mikirnya kayak gini mungkin maksudnya kerja di PT. Freeport. Konon katanya gaji di PT. Freeport emang tinggi. Gaji pokok pegawai negeri di seluruh Indonesia juga sama kok, cuma bedanya ada di tunjangan daerah atau insentif gitu. Kan tiap daerah beda-beda. 

Kerja di Papua mungkin bisa dapat gaji tinggi tapi sebanding ama harga-harga barang di sana yang juga relatif tinggi dibandingkan daerah-daerah lain karena untuk menutupi biaya distribusi logistik dari Jawa yang emang mahal. Papua memang kaya sumber daya alamnya tapi kerja di sana belum tentu langsung bikin kamu kaya. Kalo mau kaya pelihara aja tuyul. Yang kaya juga cuma segelintir orang berperut buncit. Sama aja kayak daerah-daerah lain. 

4. Kalo Ga Item Kulitnya, Gak Keriting Rambutnya, Itu Bukan Orang Papua!
Sedih juga ama persepsi kayak gini, masih terkesan rasis. 

Nih ya, saya kasih tau... Dengan adanya program Transmigrasi zaman Hitler dulu, dan penyebaran penduduk Indonesia, Papua mulai dihuni oleh berbagai macam etnis dan suku. Beberapa dari mereka menikah dengan orang pribumi. Contohnya kayak etnis Tionghoa menikah ama orang Papua. Ada juga pendatang yang sudah beberapa generasi menetap di Papua. Contohnya kayak orang Bugis ama Toraja. Keturunannya mengaku sebagai orang Papua padahal kulit mereka putih, rambutnya lurus karena mereka memang lahir dan besar di sana. Mereka mencintai Papua dan menganggap Papua sebagai kampung halaman, mereka memilih Papua, bukannya memilih tanah kelahiran orang tua atau kakek dan neneknya di Sulawesi.

Jadi gitu... Kalo kamu ngeliat ada cewek, kulitnya putih bersih, rambutnya lurus, pahanya mulus yang mengaku sebagai orang Papua, mungkin itu pacar saya jangan heran apalagi sampai gak percaya. 

(c) VoP

Yep, sekian dulu ngobrolin tentang Papua. Kalo kamu punya pengalaman lain tentang persepsi masyarakat yang salah, share di komentar ya :)

Oh iya, jangan lupa... Papua Itu Indonesia, Bapa!

Kaos dari VoP *bukan promo*

You Might Also Like

14 komentar

  1. Teman-teman saya di kampus banyak yang putih juga kok dan pintar. Mungkin yang memiliki persepsi seperti itu adalah orang yang memiliki pengetahuan minim. Bahkan mungkin juga hanya berpikiran bahwa orang yang kulitnya hitam, keriting, dan lain sebagainya semuanya adalah orang papua, ambon, NTT dan NTB. Padahal itu adalah salah besar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya gak salah juga, cuma kurang informasi aja

      Delete
  2. Bukan hanya Papua, banyak juga yang salah tentang Ternate ( dan rata-rata sering salah tentang Wilayah-wilayah di Timur Indonesia )

    Setiap saya mengatakan saya orang Ternate, pasti ada ajah yang salah info.
    "Oh Ternate tuh yang di Sulawesi ya mba?"
    " Ternate tuh dimana mba?"
    " Ternate termasuk NTT yah mba?
    "Koq gak keriting mba?"

    #TanyaKenapa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka kurang piknik... :)

      Mainnya kurang jauh, pulangnya kurang malam :p

      Delete
  3. yang saya suka dari orang papua adalah :
    ada sebagian orang disana yang modern dan sederhana tapi sopan dan bisa menghargai kita bisa bergaul bareng dan sebagian yang sudah modern juga walaupun mereka kriting, hitam, makan pinang dlln tp itu adalah hak dan fisik serta kebiasaan budaya mereka . saya suka orang-orang seperti mereka dari berbagai macam tempat entah wamena,sorong,timika dlln. saya suka dengan sifat-sifat orang papua seperti itu. lemah lembut.
    maaf, ada yang saya tidak suka :
    - ini orang sudah modrn dan ada juga yang tradisional. mereka sama sekali tidak menyukai orang jawa makassar dlln orang' yang berkulit sawo mateng putih rambut lurus dlln,. ,entah karna apa. ada pepatah mengatakan . dikasih hati minta jantung. pengalaman saya sendiri , saya sudah baik. bahkan baik sekali , entah orang ini datang dari mana, kerjanya cuman malak dan mabuk. ada juga bahkan yang sadar tapi sama sekali tidak menghargai kita ,setiap tatapannya merasa marah terus. bahkan membayar sesuatu pun di lempar uangnya. . . jika semua orang dipapua menghargai kita ,kita lebih menghargai kalian. dengarkanlah ini hayy saudara sebangsaku ,kami tidak untuk dibunuh dan ditakut takuti kami hanya saudara kalian dari pelosok" pulau diluar papua ,kami mencari kerja disini untuk menafkahi keluarga yang jauh disana dan mencari pengalaman juga, kami membagikan ilmu kepada kalian . minta maaf ,jika ada sebagian dari kami (orang-orang non papua yang pernah menyakiti kalian) , tapi semua" kami hanya ingin berbuat baik dan bekerja berasama membangun papua dan indonesia bukan untuk saling membunuh, menghujat, demo, apalagi merdeka. kalian pasti menghargai pejuang asli papua yang turut memerdedekakan indonesia. mari bersama-sama bhineka tungggal ika dimanapun kita berada. thanks.

    ReplyDelete
  4. The best articel i've ever seen in this blog :p
    Jadi setelah ke jogja, kapan ko main ke semarang? Cuma 2 jam ini :)))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Neng...

      Entar ke Semarangnya nungguin kamu putus dulu dari pacar kamu.

      Delete
  5. klo di wamena ada istilah LABEWA, lahir besar di wamena. jadi udah cinta banget sama papua. padahal kulit putihh. bner bgt yg di bilang, banyak orang manado dan toraja disini.

    btw dulu SMA nya dmana? saya skrg d papua nih. di wamena

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya saya tadi baca-baca blognya Mbak Icha. Keren pokoknya...

      Saya dulu tinggalnya di bagian 'kepala burung' :p

      Delete
  6. saya tinggal di kampung bangun tapan ,warga kampung yg punya warung jual pulsa dan selalu rasis kepada saya karena itu saya bkn orang jawa ,saya orang NTB . waktu mau beli pulsa ,saya malah di mahalin dengan tarif luar daerah dan mereka tidak akan percaya saya pakai nomor yogyakarta sebab itu dia lihat dari warna kulit . ! karena mereka rasis terhadap ku. maka itu saya cari tempat jual pulsa yang lain !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Errgghhh, baru pertama saya dengar cerita kayak ini. Yang sabar ya mas Unknown

      Delete

Berkomentarlah yang baik dan sopan. Jangan komentar pake bahasa gaib.

Jumlah Mantan

Google+

Teman-teman Bloggers