Hal-hal yang Membuat Kapal PELNI Terasa Tidak Nyaman


Barusan saya baca berita di kompas (Dua Menteri Cek Kebersihan Toilet Kapal Pengangkut Pemudik), tentang dua orang Menteri yang mengecek kapal milik PT. PELNI yang digunakan masyarakat untuk program mudik gratis. Kapal itu namanya KM. Dobonsolo. Menurut kompas, para Menteri ini sempat melewati lorong yang harusnya kosong tapi malah ditempati penumpang untuk tidur. Yang bikin kesel adalah reaksi Menteri biasa aja, seolah-olah itu hal yang benar. Padahal kan tidak seharusnya penumpang dibiarkan tidur di lantai kapal. Padahal saya berharap tuh dua Menteri bakal ngamuk-ngamuk di kapal karena penumpang ditelantarkan, tapi nyatanya... Pfftttt!

KENAPA PAK? KENAPA? BAPAK BELUM PERNAH RASAIN NAIK KAPAL TERUS TIDUR DI LANTAI SIH!?

FYI, transportasi utama (dan satu-satunya bagi masyarakat kelas bawah) di bagian Indonesia Timur adalah transportasi kapal laut. Dulu waktu pesawat belum berkembang, orang banyak menggunakan kapal laut untuk bepergian dari satu kota ke kota lain yang ada di Indonesia Timur dan juga dari Indonesia Timur ke Indonesia Tengah dan Barat. Bahkan sampai sekarang, ada kota-kota dan pulau-pulau yang cuma bisa dijangkau dengan kapal laut. 

Berdasarkan pengalaman pribadi yang udah berkali-kali kejepit di pelabuhan dan tangga kapal, tidur di dek kapal dan kekunci di kamar mandi kapal, berikut ini adalah hal-hal yang menyebabkan berlayar dengan kapal PT. PELNI jadi gak nyaman dan aman.

1. Jumlah tempat tidur tidak sama dengan jumlah tiket yang terjual.
Idealnya, jumlah tiket yang dijual sama dengan jumlah kasur/tempat tidur yang ada di kapal. Misalkan di kapal ada 2.500 tempat tidur, harusnya tiket yang dijual juga 2.500. Kayak pesawat ama kereta api jarak jauh. Jadinya semua penumpang dapat 'seat'. Nah ini gak berlaku untuk kapal PELNI. Tiket yang dijual itu gak sesuai dengan jumlah tempat tidur. 

Akibatnya apa?

Jumlah penumpang gak sama dengan jumlah tempat tidur. Akhirnya penumpang yang gak kebagian tempat tidur malah menggelar tikar di lorong-lorong, di dek-dek kapal. Kalo musim liburan (natal, lebaran) lorong-lorong yang harusnya steril jadi ketutup sama ibu-ibu dan anak-anaknya yang lagi tiduran, om-om yang lagi main kartu, dll. Jadinya penumpang lain jadi kesulitan kalo mau lewat.

(c) here


(c) here

(c) here

Yang bikin kampret lagi, tempat tidur di atas kapal (untuk kelas ekonomi) harus pake sistem rebutan. Siapa yang cepat dia yang dapat. Nomor kasur/tempat tidur yang tertera di tiket itu cuma omong kosong aja. Aduh, mama sayang eee... Bayangin aja kalo kursi pesawat dan kereta api jarak jauh sistemnya juga kayak gitu. Bandara dan stasiun bakal chaos, men... Kacau kayak pelabuhan Indonesia.

Orang-orang yang tidur di dek luar itu berbahaya sekali, soalnya kemungkinan jatuh ke laut juga besar.

2. Berebut naik ke kapal
Ini efek domino dari sistem penjualan tiket yang penuh mafia. Orang-orang pada berebut naik ke kapal biar bisa dapat tempat tidur yang kosong. Yang pada dasarnya udah gak tahu budaya ngantri, dikasih sistem berebutan, udah deh... Pelabuhan kacau. Penumpang saling berdesakan pengen naik ke kapal seolah-olah zombie udah menguasai kota. Ditambah dengan kehadiran porter yang bawa barang besar-besar dan berat, siap-siap aja kamu kejepit berjam-jam, kehabisan oksigen karena sejauh mata memandang cuma ketek doang yang terlihat. Kasihan anak-anak kecil yang paru-parunya belum kuat menghirup bau ketek dalam jumlah banyak. 

(c) here

3. Banyak pencopet/pencuri
Suasana yang kacau dan penumpang yang berdesakan dimanfaatkan sejumlah orang untuk mencuri barang-barang orang lain di pelabuhan. Tidak cuma di pelabuhan, di atas kapal pun para penjahat ini masih berani beraksi. Sasaran utamanya penumpang-penumpang yang tidur di lantai tadi soalnya mereka tidur di tempat terbuka, tempat yang digunakan orang untuk lalu-lalang. Kalo lengah, barang-barang berharga bakal dicuri. 

4. Barang-barang yang gak dimasukkin ke kontainer
Di bagian depan kapal itu udah disediakan kontainer-kontainer khusus untuk meletakkan barang-barang yang besar, banyak dan berat-berat. Entah kenapa ada orang yang diperbolehkan meletakkan barang-barangnya di lorong-lorong kapal atau dek-dek kapal. Barang-barang seperti besi-besi, buah-buahan yang jumlahnya berkilo-kilo, kardus-kardus besar dan tinggi, sampe pernah ada yang naruh motor di dek kapal. Kampret banget... 

5. Toilet dan kamar mandi tidak layak digunakan
Di beberapa kapal, toilet dan kamar mandinya bersih dan gak tersumbat (baik kamar mandi ekonomi dan kelas). Tapi di beberapa kapal juga ada yang kamar mandi dan toiletnya tersumbat. Biasanya di kelas ekonomi. Efeknya, lantai jadi tergenang air. Ditambah orang yang lalu-lalang, jadinya lantai-lantai jadi becek gak ada ojek.

6. Orang merokok di dalam kapal
Ini kebiasaan orang Indonesia nih terutama laki-laki. Di dalam kapal itu ada sistem pendingin udara (kalo gak bakal pengap banget). Sudah ada larangan supaya gak merokok di dalam kapal, tapi mereka cuek-cuek aja. Kalo paru-parunya mau dibocorin pake rokok sih gak masalah, bodo amat lah. Tapi asap rokoknya itu menganggu kesehatan orang lain di sekitarnya seperti anak kecil yang polos, cewek-cewek yang lagi mabuk laut, dan ibu-ibu yang stres ama makanan kapal (kelas ekonomi).

Makanan kelas ekonomi *bergizi sekali* 
(c) here

Nah, itu dia beberapa hal yang membuat penumpang gak nyaman dan aman kalo naik kapal PELNI. Yang paling menderita sih penumpang yang di kelas ekonomi. Namanya juga ekonomi, fasilitasnya memprihatinkan. Kalo yang di kelas 1, 2, dan 3 mah tempat tidurnya masih bagus lah, kayak penginapan-penginapan kelas melati gitu. Kalo kelas 1 baru agak elite dikit. Harga tiketnya juga...

Karena harga tiket kapal kelas 1, 2 dan 3 mahal makanya orang-orang yang gak punya banyak uang juga gak punya pilihan lain selain membeli tiket ekonomi, apalagi kalo berangkatnya rombongan, sekeluarga gitu (biasanya pas mudik). Tiket pesawat juga mahal, dan gak terjangkau kalau mau berangkat rombongan. Jadi ya mau gimana lagi... Terpaksa menderita selama beberapa hari di kelas ekonomi.

Kalo yang di pulau jawa mah enak. Transportasinya ada laut, darat dan udara. Kami mah apa atuh yang cuma bisa mengandalkan transportasi laut yang pelayanannya memprihatinkan.

Update :

Barusan saya melaporkan masalah kapal Pelni ke situs www.laporpresiden.org. Untuk yang belum tau, situs ini sengaja dibuat Pak Presiden untuk masyarakat agar bisa melaporkan dan menyuarakan pendapat, keluhan, dan harapan mereka. Semoga Pak Presiden mau membaca ya, soalnya pasti banyak sekali yang melapor. Termasuk saya. Baca : Reformasi PT. Pelni dan Pelabuhan 

Comments

  1. Pernah ngalamin juga ya mas bro. Begitulah kenyataan yang terjadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo, Kak! Mau ikut jelajah Kalimantan GRATIS & dapetin MacBook Pro? Ikuti lomba blog "Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure" di http://bit.ly/terios7wonders2015

      Jangan sampai ketinggalan, ya!

      Delete
  2. Seolah-olah zombie udah menguasai kota. <-- Wuaaa, zombie attackkkk. *langsung keinget Resident Evil*

    Saya belum pernah sekalipun naik kapal malah. Dan habis baca yang di atas rada sedih juga. Iya, sedih gegara" suasana seperti itu dianggap biasa aja sama petinggi-petinggi terkait. Padahal kan kalo lebih diatur (fasilitasnya) dan jadi teratur (penumpangnya) tentu akan lebih indah dunia ini. Tsaah~

    ReplyDelete
  3. Parah juga ya. Gue lihat foto-foto itu rasanya mau asma. Hahaha. Gue terakhir naik pelni sewaktu TK. Tapi kelas yang tempat tidurnya tingkat gitu. Toilet seinget gue baik-baik aja. Dan setelah baca ini, gue langsung mengucap rasa syukur banget. Pikir gue sih bahayanya adalah, jika anak seumuran TK naik kapal pelni yang dipenuhi penumpang kemungkinan bisa terpisah atau kesasar. Gue yakin itu sering terjadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya memang sering terjadi. Kalo di kapal di Dek 5 ada ruang informasi. Biasanya dari situ suka dibacain info orang hilang. Suaranya bakal terdengar di seluruh kapal

      Delete
  4. Serius om, jumlah tempat tidur gak persis di tiket, waaahh..
    Tapi gue belum pernah naik kapal, jadi gatau deh haahahaha, seru kayanya ya, misal naik kapalnya sendirian, bebas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru kalo belinya tiket 'kelas' biar ga menderita

      Delete
    2. Hampir semua skg adanya Ekonomi. Kamar kelas sebagian besar sdh dirombak jd ekonomi. Yg msh punya kamar kelas cuma 3 : KELUD, SINABUNG sama KELIMUTU. Pemerintah juga yg nyuruh ngilangin Kamar kelas. Pemerintah emang kampret!

      Delete
  5. waduh, kenapa sampai seperti itu ? apa gaa risih dengan suasana seperti itu ? ya ampun itu makanan nya sungguh tidak layak -_-

    ReplyDelete
  6. parah abis. berarti fasilitas kacau banget yak. beberapa hari lalu gue juga liat di berita, dorong-dorongan berebut naik kapal sampe injek-injekan. parah banget.... dan makin diperparah dengan makanan yang sangat bergizi. belum lagi ada pencopet. itu adalah alasan kenapa gue males naik kapal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berebut naik kapal itu karena sistem tiket yang kacau tadi

      Delete
  7. Jumlah seat sama kapasitas sama nggak sih? Misal tiketnya 2500, seatnya 2500 dan kapasitas
    kapalnya 2500. Kalo ada yang nggak dapat tempat tidur berarti kapasitas kapalnya yang berlebih?

    Aku pernah naik kapal, mau ke bali. Di kapalnya mau duduk tapi nggak dapet tempat duduk gara-gara dipakai tidur sama penumpang lain. Akhirnya nunggu diluaran sambil kena angin laut, lumayan sebelumnya ngantuk jadi seger kena angin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kapal buat nyeberang doang, sebentar aja. Jadi gpp sebenarnya kalo ga dapat tempat duduk. Tapi kalau kapal yang nyeberang banyak pulau, yang butuh berhari-hari buat sampai, gak dapat tempat duduk atau tempat tidur itu pelanggaran hak asasi manusia. #heh

      Delete
  8. saya nggak pernah naik kapal jadi baru tahu ini
    parah banget ya kondisinya. nggak tahan tuh liat makanannya.... saya bisa kelaparan kalau di sana,

    soal menteri itu, mereka kan gecek toilet jadi mana perhatian sama tempat tidur penumpang. lagipula itu kayaknya cuma pencitraan doang kali ya

    oh ya, bagian terakhir keren tuh
    bermnfaat banget soal situsnya
    jadi itu bisa ngelaporin keluhan ya sama presiden
    sip... sip bagus deh

    ReplyDelete
  9. beneran itu mas ? ya ampun banyak banget yaaa yang naek kapal ini, ampe harus berdesakan seperti itu -_-

    Makanan nya tidak layak dikonsumsi -_- >,<

    ReplyDelete
  10. Ah... rasanya agak suram kalau mudik naik kapal. Dari gambar yang lio posting aku pengen mual pas nengok lauknya, subhannalah kali. belum lagi umat manusia yang tumpah meruah gitu. jadi gak pengen mudik naik kapal

    ReplyDelete
  11. ya allh kayak gitu banget keadaan kapal PELNI. Gue raa mentri yang mennjau itu cuman pencitraan biar dikira kerja ajah padahal sih cuman lihat2 ngnaggur..

    itu asli makanannya bergizi sekali -_-'

    semoga kedepan pemerintah kita bisa berbenah..

    ReplyDelete
  12. Ya itulah Indonesia.

    Mau ngeluh gimana lagi coba?

    Masyarakat Indonesia kan suka yang murah murah :D

    Kalau harga murah, fasilitas juga murahan kan?


    hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fasilitas murah juga tetap harus dijaga kualitasnya. Keselamatan juga dijaga

      Delete
  13. Singkat saja saya komen.tiket itu harus di sesuaikan dengan jumlah tempat yang ada biar nggak melebihi kapasitas kapal,dan yang baca komen saya itu perokok tolong berhenti.

    ReplyDelete
  14. Jangan percaya dengan blog ini..
    Ini cuman tuduhan yang ngak masuk akal..
    Mungkin itu dulu tapi sekarang sudah berbeda..

    ReplyDelete
  15. 1. Jumlah tempat tidur tidak sama dengan jumlah tiket yang terjual.
    kalau ini tidak berubah dari dulu sampai sekarang... tapi seingat saya KM gunung dempo pernah mengikuti aturan dengan menyesuaikan nomor tempat tidur di tiket penumpang tapi sekarang sudah kembali lagi seperti biasanya. untuk alasan ini pihak pelni belum pernah memberikan penjelesan terkait penjualan tiket yang melebihi kapasitas tempat tidur...
    4. Barang-barang yang gak dimasukkin ke kontainer (masih sama tidak berubah)
    5. Toilet dan kamar mandi tidak layak digunakan (tergantung point 1 kalau kelebihan penumpang).
    6. Orang merokok di dalam kapal.
    pernah lihat satpam menampar orang yang merokok di dalam kapal tapi tidak semua satpam sama tegasnya. untuk makanan kapal sekarang sudah bisa diberi nilai 8,5 dari 10...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah syukur deh makanannya sudah berubah.

      Mantap updatenya

      Delete
  16. Betul banget itu, ga mengada ada, seperti itulah kenyataannya. Yg di kelas 1,2,3 jg kena imbas dr overload penumpang, kita yg mau jalan2 di dek
    Luar ato menuju anjungan harus repot2 melangkahi penumpang yg tidur disepanjang dek luar

    ReplyDelete
  17. wuaduh, padahal aku pengin banget naik kapal, rencananya sih mau ke sampit.
    tapi, klo masih kayak gitu, bisa berabe nih !

    ReplyDelete
  18. Ada yang bilang bahwa jangan percaya dengan tuduhan yang ada di blog ini. Dulu memang seperti itu, sekarang mungkin tidak.
    Hehee, begini ya pak. Ini saya kasih testimoni yang jujur nih. Saya sering banget mudik naik kapal. Biasanya juga KM Bukit Siguntang. Percaya gak percaya ye pak. Di keseluruhan lantai dek kapal itu penuh dengan penumpang(ampe sekarang). Saya nih yang mau lewat aja susah pak. Kalau dulu tahun 2013 mah enak ada sistem kamar kelas. Sekarang dihapus, entah apa alasannya. Padahal dengan dihapus nya kamar kelas ini lebih nyusahin. Lebih baik kamar kelas 1 dan 2 dihapus tapi yang 3 kagak.

    ReplyDelete
  19. Pak presiden apa tutup mata ya? Klo pak menteri pasti tutup mata. Program jokowi sampai ke Papua belum jalan sepenuhnya.

    Bantu share dong abang eneng.....
    Biar kedengeran sampai hati mereka.

    ReplyDelete
  20. Ya gitu deh bro,dah berapa kali ane naek tujuan kijang ya selalu begitu kondisinya apalagi makanannya,dibilang seru iya di nyebelin iya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Berkomentarlah yang baik dan sopan. Jangan komentar pake bahasa gaib.

Popular posts from this blog

Ton Tangkas : Ketika Prajurit TNI AD dari Seluruh Indonesia Berkompetisi

Berapa Banyak Teman yang Ingat Ulang Tahunmu?

LDR : 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Putusin Pacar Kamu