Jangan Naik Gunung Bersama Cewek yang Seperti Ini...

(c) pinterest.com

Apa sih tujuan naik ke gunung?

Well, semua orang punya tujuan masing-masing. Ada yang jawabnya singkat seperti ingin melupakan mantan, cari jodoh sesama pendaki, mau foto pake kertas di atas gunung, mau kawin dengan monyet, dll. Ada juga yang jawabnya penuh dengan filosofi hidup. 

Mendaki sebuah gunung akhir-akhir ini (menurut saya) menjadi sebuah tren. Ada peningkatan drastis jumlah manusia yang naik ke gunung. Tiba-tiba banyak orang menjadi tertarik untuk mendaki gunung. Tiba-tiba orang-orang menjadi semangat untuk menaklukkan gunung. Tiba-tiba orang kepengen memegang dan mencium gunung. Padahal untuk memegang dan mencium gunung, tidak perlu capek-capek mendaki. If you know what i mean...

Sudah banyak orang yang mengkategorikan jenis-jenis pendaki. Saya tidak akan mengkategorikan lagi karena pengalaman mendaki saya berbanding lurus dengan pengalaman pacaran saya dibagi jumlah ditolak cewek. Tapi kita semua pasti sepakat bahwa ada beberapa pendaki yang tidak bertanggung jawab dengan merusak lingkungan di atas gunung. Manusia-manusia ini tidak akan saya bahas karena sudah banyak dijelaskan oleh banyak orang. Cari aja di google.

Cewek (TIDAK SEMUA YA!) seringkali merepotkan saat mereka ikut dalam pendakian. Kenapa begitu? Berikut ini beberapa alasannya...

1. Tidak ada persiapan
Girls, naik gunung itu butuh persiapan fisik dan mental. Tidak bermaksud meremehkan, ini juga berlaku untuk semua gender (termasuk setengah cowok dan setengah cewek). Naik gunung itu bukan seperti pergi piknik ke pantai atau ke taman. Ada jalur menanjak, ada jalur menurun, ada jalan licin, ada jalan berbatu, ada jalan kenangan... Ergghh...

Di samping itu, seorang pendaki juga setidaknya harus menguasai dasar-dasar survival seperti membaca kompas, membaca peta, mendirikan tenda, dll. Lebih bagus lagi jika menguasai kemampuan lain seperti memanjat tebing, bertahan hidup, dll.

Jadi kalau ada cewek yang gak siap secara fisik dan mental, yang ada justru malah merepotkan. Kalau dia gak kuat bawa ranselnya sendiri, siapa yang bakal disuruh membawakan ranselnya? Atau setidaknya menawarkan diri...

COWOK!!! 

Ini bukan tentang bersikap gentleman atau omong kosong lainnya. Siapa yang bilang naik gunung itu gampang? 

Barangmu, tanggungjawabmu. Bawa sendiri dong. Kalo gak kuat bawa ransel sendiri, jangan naik gunung.

2. Bawa barang terlalu banyak dan gak penting
Ini bikin kesel. Bawa barang banyak dan gak penting itu malah menyusahkan, bikin ransel jadi tambah berat. Di sini seharusnya kita dituntut untuk bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak penting. Seperti membedakan mana yang dibutuhkan dan mana yang diinginkan.

Bayangkan kalo ada cewek yang bawa barang banyak (ranselnya lebih berat) dan begitu jalan 100 meter, dia udah gak kuat. Siapa lagi yang bakal disuruh membawakan ranselnya? Atau setidaknya menawarkan diri...

COWOK!!! 

Suka-suka gue dong jadi cewek. Kan ada pacar gue, kan ada gebetan gue, kan ada temen (tapi ciuman) gue, kan ada selingkuhan gue, yang bakal jadi porter dari bawah sampe ke atas gunung, terus dari atas, turun lagi sampe ke bawah.

So, they never understand, they never learn! Dengan memikul ranselmu sendiri, dengan berjuang membawa beban sampai ke puncak, kamu bakal ngerti kalau sukses dan berhasil tidak pernah dicapai dengan mudah. Kamu bakal belajar banyak melalui perjuangan dan penderitaanmu menuju puncak.

Itu...

Itu sebabnya jangan mau naik gunung bersama cewek yang seperti di atas. Kecuali kamu itu pacarnya atau gebetannya atau teman(tapi ciuman)nya. 

Bonus...

Comments

Popular posts from this blog

Ton Tangkas : Ketika Prajurit TNI AD dari Seluruh Indonesia Berkompetisi

Berapa Banyak Teman yang Ingat Ulang Tahunmu?

LDR : 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Putusin Pacar Kamu