Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Surakarta

Bulan september yang lalu saya membuat paspor di kantor Imigrasi Surakarta. Tujuan buat paspor sebenarnya bukan untuk mau ke luar negeri sih. Soalnya kemampuan bahasa Inggris saya masih level anak TK. Lagipula makan aja masih susah, udah sok mau ke luar negeri.

Saya bikin paspor cuma karena pengen aja. 

((KARENA PENGEN AJA!))

Masih banyak orang yang menganggap bikin paspor itu susah dan mahal. Sebenarnya anggapan paspor mahal itu memang gak salah juga karena ada jenis paspor yang memang harganya mahal. Kalau dokumen lengkap dan memenuhi syarat, bikin paspor itu tidak susah.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya kita bisa membuat paspor di Kantor Imigrasi terdekat. Artinya di kantor Imigrasi mana saja juga bisa walaupun KTP kita bukan KTP dari kota/daerah Kantor Imigrasi tersebut.

Jadi saya bikin paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta sementara KTP saya dari Zimbabwe. Saya memilih cara walk in atau langsung ke sana dibandingkan online karena khawatir ada masalah dengan kelengkapan dokumen sebagai syarat-syarat pembuatan paspor. Katanya kalau daftar online itu bayar dulu. Jadi kalau nanti ada masalah dengan dokumen, uangnya terancam hangus. Katanya begitu... Katanya...

Sebenarnya apa saja syarat untuk membuat paspor?

Syarat untuk membuat paspor adalah :
1. KTP (Foto copy perbesar atas dan bawah 1 rangkap, dan aslinya)
2. Kartu keluarga (Foto copy dan aslinya)
3. Ijazah/Akta Kelahiran

Sudah!!!! Cukup dengan tiga dokumen itu sudah bisa membuat paspor. Dokumen asli ini nanti dibutuhkan untuk mengecek keaslian dokumen saja. Jadi jangan lupa dibawa saat pergi ke kantor Imigrasi selain bawa 

Tapi karena KTP saya bukan KTP Surakarta, maka dibutuhkan dokumen tambahan yaitu surat keterangan domisili sementara. Karena saya berstatus mahasiswa, maka dibutuhkan juga kartu mahasiswa (foto copy dan asli). Karena saya masih menjadi tanggungan orang tua maka dibutuhkan surat pernyataan orang tua (suratnya bisa dibeli di koperasi Kanim Kelas I Surakarta).

Berapa harga pembuatan paspor?

Untuk paspor biasa, ada dua jenis yaitu 24 halaman dan 48 halaman. Itu pun terbagi lagi menjadi paspor biasa dan paspor elektronik (e-passport). Tapi saya hanya membahas paspor biasa aja. Untuk pilihan jenis paspor biasa, sebenarnya tergantung kebutuhan saja. Kalau yang sering bepergian ke luar negeri, kayaknya harus buat yang 48 halaman. Tapi kalo yang jarang pergi, 24 halaman sudah cukup. Dan untuk yang cuma bikin paspor dan tidak ke luar negeri sama sekali, 24 halaman mah kebanyakan.

Harga paspor 24 halaman adalah 100 ribu rupiah sedangkan harga paspor 48 halaman adalah 300 ribu rupiah. Ditambah biaya biometrik (sidik jari, dll) adalah 55 ribu rupiah.

Setelah menyiapkan uang (entah uang sendiri atau uang orang tua atau uang hasil dari jual ginjal), maka datanglah ke kantor Imigrasi. Jangan lupa mandi dan pake deodoran biar gak bau ketek. 

Salah Informasi!
Sebelum saya pergi ke kantor Imigrasi, sekitar 2-3 hari sebelumnya saya riset dulu di internet. Banyak orang menceritakan pengalamannya membuat paspor di Imigrasi Surakarta. Well, pengalaman adalah guru terbaik kan? Nah, di salah satu blog, ada yang menyarankan untuk datang sejak jam 4 pagi untuk mengambil nomor antrian karena berdasarkan pengalamannya, datang jam 7 atau 8 pagi biasanya sudah tidak tersisa nomor antrian karena Imigrasi menggunakan kuota.

Dengan penuh semangat dan deg-deg'an, saya meluncur ke kantor Imigrasi Surakarta jam 4 pagi dengan motor pinjaman. Pas nyampe di sana, kantor Imigrasi masih tertutup. Pagarnya masih terkunci dan satpamnya juga tidak ada di posnya. Saya kecewa... Saya terluka... Akhirnya saya balik lagi ke kost sebelum ada yang meneriaki saya maling. Saya tiba di kost jam setengah 5 pagi dengan perasaan terpukul. Kalau sakit hati, sebaiknya tidur saja.

Ternyata... Informasi datang subuh itu sebenarnya tidak salah. Hanya sudah tidak relevan lagi karena itu pengalaman orang di tahun-tahun sebelumnya. Imigrasi Surakarta sudah membenahi sistem pelayanannya. 

Pelajaran yang bisa diambil : Informasi tahun lalu (atau tahun-tahun sebelumnya) belum tentu sama dengan informasi tahun sekarang.

Ambil Nomor Antrian!
Saya terbangun jam setengah 7 pagi. Cuma modal cuci muka (IYA! TIDAK MANDI! TIDAK GOSOK GIGI! TIDAK CUKUR BULU KETEK!), saya meluncur lagi ke kantor Imigrasi Surakarta. Sampai di sana sekitar jam setengah 8 pagi dan motor-motor serta mobil-mobil sudah berjejeran di depan kantor. Orang-orang sudah ramai. Mungkin mereka datangnya jam 6 atau jam 7 pagi. Saya panik... saya mules.

Pas masuk di dalam, orang-orang sudah duduk manis di kursi. Saya kebagian kursi di baris ketiga dari belakang dekat tangga naik ke lantai dua. Ada orang yang asyik ngobrol dengan yang di sebelahnya, ada yang sibuk main gadgetnya, ada yang pacaran, ada yang tidur, dan ada yang panik dan mules (Itu saya, btw). Setelah tanya-tanya ama Om di sebelah saya, ternyata mereka belum ngambil nomor antrian karena petugasnya belum datang. 

Beberapa menit (sekitar 690.105,789 menit) kemudian, petugasnya datang. Kami langsung diarahkan untuk mencetak nomor antrian di mesin antrian dekat pintu masuk (mirip ATM atau mesin tiket yang di stasiun Solo Balapan). Jadi orang-orang yang duduk di baris pertama (dimulai dari depan) yang pertama berdiri untuk membentuk antrian, berjejer menuju mesin antrian. Setelah itu disambung dengan orang-orang di baris kedua sampai baris terakhir.

Saya semakin panik karena tidak pernah menggunakan mesin antrian layar sentuh seperti itu. Bagaimana kalau nanti salah pencet? Bagaimana kalau terblokir? Bagaimana kalau saldo ATM saya berkurang? Well, tenang saja. Ada petugas yang nanti membantu mengarahkan. Kalau yang gaptek seperti saya, yang tangannya gemetaran mencet layar sentuh, nanti akan dibantu petugas Imigrasi. Saya dapat antrian nomor 44.


Pelajaran yang bisa diambil : Datanglah Jam 6 pagi!

Verifikasi Tahap I dan Wawancara Pendahuluan
Begitu mendapatkan nomor antrian, kita bisa kembali duduk di kursi atau pulang dulu (kalau yang dapat nomor antrian bagian terakhir). Oh iya, Imigrasi Surakarta sudah menerapkan sistem antrian yang bisa dipantau via internet atau via SMS. Jadi kalau misalnya kamu dapat nomor antrian 45 dan kamu memilih pulang (atau ke kantor atau ke mana saja, TERSERAH! SAYA GAK PEDULI!), kamu bisa memantau antrian sudah sampai nomor berapa dari rumah. Dengan begitu, kalau sudah mendekati nomor 45, kamu bisa bergegas lagi ke kantor Imigrasi. Mudah kan? 

Kalau takut ketinggalan dan gaptek, kamu bisa memilih menunggu seperti saya. Setelah menunggu dengan sabar, akhirnya giliran saya pun tiba. Saya maju ke depan. Btw, ada tiga orang petugas yang melayani masing-masing satu orang. Kalau tiga petugas melayani satu orang itu namanya gangbang. Saya dilayani Om-om. Padahal saya sudah ngincar petugas Imigrasi yang cewek. Takdir berkata lain... Tiga petugas itu juga suka pergi dengan mendadak. Jadi pelayanan tidak maksimal. Apalagi petugas cewek yang suka pergi ke toilet atau entah kemana. Mungkin dia mual-mual karena ngeliat muka saya. 

(pas lagi nunggu dipanggil)

Dokumen saya diperiksa satu-satu, baik yang fotokopi dan yang asli. Saya merasa mirip calon bupati yang sedang diverifikasi KPU. Menit-menit yang menengangkan dan canggung. Kira-kira kayak nungguin respon dosen pembimbing waktu saya ngumpulin revisian skripsi. 

Oh iya, ada yang bilang harus beli map tertentu. Di kantor Imigrasi Surakarta, kamu tidak perlu membeli map. Nanti pada tahap verifikasi pertama ini, kamu akan diberikan map warna cream (map khusus Imigrasi) secara gratis.

(Map Gratis)

Setelah diperiksa dokumennya, saya diwawancara juga. Ditanya-tanya seputar tempat tinggal, asal, maksud dan tujuan bikin paspor, jumlah mantan dan berapa kali diselingkuhi. Petugasnya juga nanya nomor hape orang tua, kapan terakhir kali bicara dengan orang tua, di tempat tinggal orang tua ada internet gak, orang tua bisa pake email gak (saya jawab iya padahal sebenarnya tidak). Sampai di sini, firasat saya tidak enak. 

Benar saja! Dokumen saya masih kurang satu, yaitu surat pernyataan orang tua. MAMPUS! Orang tua saya kan jauh di ujung timur Indonesia sana. Petugasnya nyuruh beli surat pernyataan orang tua+materai 6 ribu di koperasi (ada di belakang kantor Imigrasi), terus ngirim via email ke orang tua untuk ditandatangani, dan dikirim balik lagi ke Solo via email hari itu juga. Dia ngasih waktu sampai jam 12. Waktu itu jam 10 pagi.

SEMPAK KUDA!!! BIJI SAPI!!! RAHIM ONTA!!!

Bayangin, saya harus nge-scan surat pernyataan, terus ngirim via email ke orang tua. Syukur-syukur kalau mereka tidak sibuk. Kalau pun tidak sibuk, saya masih cemas-cemas karena mereka belum paham email dan internet. Nah, kalau mereka berhasil mengunduh surat dari email, mereka harus nge-print lagi, terus diisi, lalu discan lagi, dan terakhir ngirim ke saya lagi via email. 

Orang tua yang tinggal di Indonesia Timur yang internetnya lemot dan orang tua yang hampir tidak pernah menggunakan internet dan email (komputer saja jarang). Semua itu harus dilakukan dalam jangka waktu 2 jam. Jelas saya panik, emosi, tidak nafsu makan dan lemah syahwat memikirkan jalan keluar. 

Well, untung saya tidak putus asa. Banyak jalan menuju Roma. Singkat cerita, saya kembali ke kantor Imigrasi jam setengah 12 dengan surat pernyataan orang tua lengkap dengan tanda tangan dan materai. Jangan tanyakan bagaimana saya melakukannya.

Surat Pernyataan Ortu dari Imigrasi (klik gambar untuk memperbesar)

Pelajaran yang bisa diambil : Siapkan surat pernyataan orang tua dari jauh hari sebelumnya karena membutuhkan tanda tangan mereka. (Photoshop mungkin bisa sangat berguna).

Verifikasi Tahap II, Wawancara, Biometrik, dan Foto Paspor.
Setelah dokumen saya dinyatakan lengkap, saya diberikan nomor antrian baru lagi untuk ngantri pada tahap selanjutnya. Bedanya, kali ini tidak perlu lewat mesin antrian lagi. Nomor antrian yang baru ini langsung ditempelkan di map kita. Ruang tunggunya juga berbeda lagi dengan ruang tunggu yang tadi. Di tahap verifikasi kedua ini, dokumen kamu akan diperiksa untuk yang terakhir kalinya.

(proses verifikasi, wawancara dan foto)

Ada yang berbeda di tahap ini. Kamu akan berhadapan dengan dua orang petugas Imigrasi, mesin scan, komputer, kamera, dan mesin biometrik. Di sini, Imigrasi akan memasukkan, memeriksa dan mencocokkan data diri kamu dengan database yang ada di komputer. Di sini akan ketahuan kalau misalnya kamu ditandai oleh pihak kepolisian atau pihak intelijen--mungkin. Kalau nama kamu sudah ditandai, hampir pasti pengajuan paspor kamu akan ditolak. Atau ketahuan kalau misalnya dokumen kamu palsu. Soalnya verifikasi tahap pertama tadi hanya sekedar mencocokkan nama saja antara kartu keluarga, KTP, dan Ijazah, bukannya memeriksa keaslian dokumen.

Saya maju setelah dipanggil dengan perasaan yang bercampur aduk. Saya khawatir pengajuan paspor saya ditolak. Well, untungnya dokumen saya lolos verifikasi dengan syarat membuat surat keterangan domisili sementara dan dibawa nanti saat mengambil paspor.

Saat wawancara, kamu akan ditanya lagi pertanyaan yang mirip-mirip dengan pertanyaan pada verifikasi tahap pertama tadi. Cuma mungkin akan ada tambahan pertanyaan-pertanyaan lagi, tergantung dari jawaban yang diberikan. Saya diminta menyebutkan nama lengkap, nama orang tua, TTL, ulang tahun ibu dan ayah, dll. 

Kalau jawaban kamu benar dan meyakinkan, selanjutnya kamu akan diminta untuk diambil sidik jarinya (biometrik) dan foto untuk paspor. Jangan lupa pasang senyum yang manis pas difoto. Setelah semuanya selesai, nanti diberikan rincian pembayaran biaya paspor di bank BNI. Totalnya hanya 155 ribu. 



YEP! BIKIN PASPOR HANYA BUTUH 155 RIBU RUPIAH! MURAH KAN? MAKANYA JANGAN PAKE CALO!

Semua proses di atas hanya memakan waktu satu hari saja (jika dokumen lengkap). Waktu pengambilan paspornya sendiri setelah 3 hari sejak pembayaran. 

Gimana? Mudah atau susah bikin paspor sendiri di kota yang berbeda dengan kota/domisili di KTP?

Untuk informasi selanjutnya langsung saja ke http://surakarta.imigrasi.go.id/

Comments

  1. Cepet juga ya satu hari selesai. Dulu aku memperpanjang paspor dari mulai nyerahkan berkas sampai dipanggil buat foto nunggu sekitar 1 hari. Tapi memang waktu itu antriannya lagi banyak. Pas mau musim liburan klo ga salah. Jadi, mungkin pas mau ngurus paspor enaknya di awal tahun, pokoknya yang bukan musim libur lah.

    ReplyDelete
  2. Harus pake surat domisili juga ya gan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo di Imigrasi Surakarta, saya emang diminta surat keterangan domisili sementara

      Delete
  3. saya domisili di sragen apa harus pake surat keterangan domisili juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya gak perlu karena Sragen masih masuk Jawa Tengah. Tapi yang amannya bikin aja. Gak ribet kok, tinggal minta surat di RT/RW

      Delete
  4. Antrinya bro....D-081....ini masih D-059.....hadeuh....Indonesiaku....

    ReplyDelete
  5. Antrinya bro....D-081....ini masih D-059.....hadeuh....Indonesiaku....

    ReplyDelete
  6. kalo semisal surat pernyataan orang tua bikin sendiri bisa ga ya ? soalnya besok minggu ayah sy balik lg kerja ke luar pulau, kalo besok ke kanim udah pasti ga bisa soalnya sabtu libur, rencana sih mau bikin paspor besok senin. thanks hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kurang tau juga. Kalo mau aman sih pake surat yang dari Imigrasi aja

      Delete
  7. Pasporku dah expiry date tahun lalu,minggu depan insha'allah Mau buat lagi,pingin ultah ada di luar Negri. Itu Surat pernyataan ambilnya dimana? Bolehkah saya isi sendiri,soalnya pingin diam-diam buatnya,dan pergi setelah dapat visa? Thanks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Surat pernyataannya ada di koperasi atau tempat fotocopy gitu di belakang kantor Imigrasi. Bilang aja mau beli surat pernyataan orang tua. Btw, kalo prosedur bikin paspor baru karena yg lama sudah expired kayaknya agak beda

      Delete
  8. Halo kak, kebetulan saya mengalami masalah yg sama mengenai pernyataan ortu, klo boleh tau ttd ortu mas gimana dapetinnya? Can I ask you directly? Ada kontak yg bs saya hubungi? Terimakasih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Berkomentarlah yang baik dan sopan. Jangan komentar pake bahasa gaib.

Popular posts from this blog

Ton Tangkas : Ketika Prajurit TNI AD dari Seluruh Indonesia Berkompetisi

Berapa Banyak Teman yang Ingat Ulang Tahunmu?

LDR : 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Putusin Pacar Kamu