Petarung Itu Memilih Mengalah Untuk...

"Bapak tidak mewarisi uang ketika beliau meninggal, tetapi beliau mewariskan 'mesin pencetak uang' yaitu putra-putrinya. Kami dididik untuk meneruskan cita-cita bapak yang masih belum terwujud ketika beliau masih muda. Salah satunya adalah menjadi pejabat agar bisa melawan oknum pejabat penyengsara rakyat. Saya juga selalu ingat salah satu pesan yang pernah beliau sampaikan di tahun 1995 ketika saya mengalami kefrustasian terhadap perilaku oknum pejabat. Karena frustasi, saya sempat berpikir untuk pindah kerja ke luar negeri." -Ahok (dalam buku Merubah Indonesia hal. 18)

Ahok adalah sosok fenomenal yang baru saja mengukuhkan namanya dalam sejarah bangsa Indonesia. Mundur jauh ke belakang, saat Ahok muda keluar dari fakultas kedokteran UKI setelah seminggu di sana karena merasa tidak cocok. Jiwa pemberaninya mulai keluar dimana banyak dari kita terlalu takut untuk meninggalkan zona nyaman, terlalu takut pindah jurusan kuliah yang sebenarnya tidak kita sukai.

Perjalanan politik Ahok pun tidak semudah yang dibayangkan. Beliau pontang-panting memulai dari nol. Ahok adalah pembeda, anti-mainstream saat dia masuk ke dunia politik. Beliau masuk mendobrak dan melawan dengan gigih kebiasaan koruptif di legislatif dan eksekutif. Dimulai dengan niat yang tulus dan sangat sederhana, 'mengadministrasi keadilan sosial', Ahok sudah duduk di kursi DPRD, Bupati, DPR RI, Wakil Gubernur dan terakhir adalah kursi Gubernur.

Ahok pernah gagal. Beliau pernah kalah di Pemilu 2004 karena mendidik warga tentang kebiasaan 'bagi sembako'. 

"Sekarang kita lihat bagaimana reaksi dusun yang kami buatkan stadion mini lapangan sepak bola, lapangan bola volley, sumur air, tambak ikan, dll. Apakah mereka memilih kami? Yang jelas hampir semua menjadi pengurus partai, apalagi setelah kami sediakan seragam sepak bola yang bagus lengkap dengan bolanya. Secara teori kami akan kuasai mayoritas di dusun ini. Ternyata kami kalah telak. Kenapa?

Sederhana saja. Kekalahan ini disebabkan pada saat kampanye yang mengambil tempat di tengah lapangan sepak bola yang penuh sesak, saya mengatakan 'goblok' sebagai balasan teriakan massa 'hidup! hidup!' dan 'merdeka!'. Saya katakan kepada para peserta kampanye bahwa mereka mendukung partai saya tanpa peduli bahkan mengetahui apa ideologi partai saya, yang penting karena sudah mendapatkan banyak bantuan.

Coba bayangkan harga baju kaos bola yang hanya 15.000 mereka telah rela memberikan nasib mereka dan anak cucu kepada partai saya. Bayangkan 15.000 kalau dibagi 5 tahun/bulan mereka baru mendapatkan Rp. 250 per bulan. Sedangkan saya bisa memperoleh sekian juta rupiah. Ditambah jika saya tidak memperjuangkan jaminan sosial untuk mereka di APBD, maka mereka akan 'dirampok' oleh biaya kesehatan, pendidikan dan modal kerja." -Ahok (dalam buku Merubah Indonesia hal. 31)

Yep, benar-benar sosok pembeda.

Kelalahan di Pilkada DKI ternyata memberikan dampak yang lebih luas ke seluruh penjuru Indonesia. Ada pendidikan politik berharga yang bisa dipetik oleh generasi muda. 

Ahok bukan manusia yang haus kekuasaan. Beliau tidak punya 'utang' kepada partai dan pengusaha. Satu-satunya alasan dia berjuang mempertahankan kursi Gubernur adalah untuk meneruskan apa yang sudah dimulainya bersama Jokowi dan Djarot, perjuangan untuk mengadministrasi keadilan sosial tanpa dicampuri kepentingan-kepentingan pribadi dan pihak lain.

Kemarin dan hari ini adalah bukti nyata Ahok bukan manusia yang haus kekuasaan. Sekali lagi, Ahok sedang mendidik kita bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap dengan jiwa besar. Beliau mencabut permohonan banding atas vonisnya. Setelah itu, beliau mengundurkan diri sebagai Gubernur DKI. Tidak ada hawa nafsu untuk tetap ngotot meraup keuntungan pribadi di sisa-sisa jabatan. Beliau taat aturan dan tunduk pada hukum Indonesia. 

Petarung itu memilih mengalah dipenjara dua tahun, mengundurkan diri dari Gubernur DKI Jakarta. Jakarta, kota yang diperjuangkannya dengan gigih untuk berubah ke arah yang lebih baik. Petarung itu memilih mengalah untuk menghindarkan konflik yang lebih besar. Petarung itu memilih mengalah untuk kedamaian dan persatuan Indonesia, negara yang dicintainya.

Setelah semua perjuangannya mengadministrasi keadilan sosial, mungkin saja setelah bebas, beliau akan memulai lagi perjuangan memerangi korupsi, mewujudkan keadilan sosial bersama-sama.

Atau mungkin juga beliau sudah merasa lelah dan memilih pindah ke luar negeri, menyingkir dari negerinya sendiri, negeri yang dicintainya.


Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. - Pramoedya Ananta Toer

Comments

Popular posts from this blog

Ton Tangkas : Ketika Prajurit TNI AD dari Seluruh Indonesia Berkompetisi

Berapa Banyak Teman yang Ingat Ulang Tahunmu?

LDR : 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Putusin Pacar Kamu