Seberapa Tangguh Anies Baswedan?


DKI Jakarta sudah berganti kursi 01 dan 02. Kita tahu dengan baik Provinsi ini selalu dan akan selalu menjadi pusat perhatian media nasional karena selain sebuah Provinsi, di sini juga merupakan pusat pemerintahan negara kita.

Macet!

Banjir!

Korupsi!

Warga Jakarta mulai menuntut pemimpin baru untuk melunasi semua janji-janji saat masa kampanye. Warga Jakarta sudah tidak sabar ingin melihat kinerja Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru dengan standar yang sangat tinggi dari periode kepemimpinan sebelumnya. Ini fenomena yang menarik melihat partisipasi aktif warga dalam fungsi pengawasan. 

Transparansi.

Zaman Jokowi, Ahok dan Djarot, pemerintahan DKI Jakarta begitu transparan. Semua data dibuka ke publik. Media-media juga tidak pernah absen meliput di balai kota. Semua gerak-gerik pejabat dimonitor langsung oleh media yang haus akan masalah dan konflik.

Rapat-rapat di balai kota diupload ke Youtube, bisa diakses siapa saja. Rapat-rapat yang fenomenal, membanjiri pemberitaan media-media besar. Semua kata, kalimat, emosi, ekspresi Jokowi, Ahok, Djarot menjadi bahan mentah bergizi untuk diolah. 

Efek samping dari transparansi yang dirintis ketiga tokoh di atas adalah mereka banjir kritikan dan tekanan terkait kebijakan-kebijakan, data-data, masalah-masalah yang ada di DKI Jakarta. Apalagi kebijakan-kebijakan yang tidak populer karena mereka tidak punya hal yang disembunyikan. Para oposisi, para lawan politik, para musuh, para koruptor punya banyak bahan untuk menekan Jokowi, Ahok dan Djarot dengan ganas.


Ahok yang masih merasa 'terbatas' saat menjabat Wakil Gubernur mulai berani maju setelah punya 'power' sebagai Gubernur. Ahok membuat daftar panjang kebijakan-kebijakannya yang memicu pro dan kontra. Ahok mulai berani gila lagi dengan pasang badan menghadapi oknum-oknum dan mafia. Dia dengan berani mengobrak-abrik kebiasaan-kebiasaan koruptif yang selama ini tidak pernah disentuh. Lihat saja para PNS DKI Jakarta yang ketar-ketir saat Ahok mulai 'mendisiplinkan' mereka.

Keberanian Ahok menutup semua lubang untuk tikus-tikus berdasi membuatnya menjadi musuh bersama para setan-setan jalang. Sejarah mencatat... Ahok tiap hari menghadapi tekanan yang kuat dari semua sisi. Tekanan-tekanan itu sangat hebat dan nyata. Dia mendapatkan banyak ancaman dan teror. Kita semua tahu Ahok adalah seorang 'fighter' yang tangguh. Hampir tiap hari berhadapan dengan setan-setan jalang dengan segala macam bentuk. Pun saat tekanan terhebat datang saat kasus penistaan agama, dia masih tetap tangguh sampai akhirnya semua ketangguhannya runtuh oleh tangisannya dalam ruang sidang. 

Tidak ada manusia yang sempurna. Dia punya batas tangguh. Ahok sudah sampai di titik dimana dia merasa tidak ada gunanya melawan.


Jadi apa hubungannya dengan Anies Baswedan?

Sebagai Gubernur baru di DKI Jakarta, Anies juga tidak akan luput dari tekanan. Anies akan mendapatkan tekanan hebat setelah berkantor di balai kota. Tekanan-tekanan yang tidak pernah dia rasakan dan bayangkan sebelumnya saat masih menjadi menteri dan seorang calon gubernur yang berkampanye. Tekanan-tekanan atas isu-isu sepele sampai krusial yang menghabiskan energi akan segera datang. Kita akan terus melihat tekanan-tekanan itu datang silih berganti di media untuk waktu yang lama.

Brace yourself, Mr. Baswedan!

Hari pertama, dia sudah ditekan dengan isu pribumi. Saya berharap dia bukan jenis manusia baperan dan cengeng. Warga DKI punya banyak harapan padanya. Jika Anies mengikuti jalan Ahok yang memilih berperang dengan setan-setan jalang, Anies bakal diguncang dari kanan, kiri, depan dan belakang, sama seperti Ahok.

Tapi kalau dia mau main aman dan memilih untuk tidak mengusik setan-setan jalang (malah membiarkan tikus-tikus masuk lagi ke lumbung APBD), Anies tetap akan mendapatkan tekanan dari rakyat DKI yang menjunjung tinggi transparansi. Prediksi saya, Anies akan memilih bermain aman. Kalaupun dia melawan, setan-setan jalang bisa dengan mudah mengecoh seorang Anies Baswedan. 

Anies tidak seperti Ahok yang rela menelusuri satu per satu anggaran APBD. 

Anies tidak seperti Ahok yang berani berkelahi frontal dengan anggota-anggota DPRD menyangkut kejujuran dan transparansi anggaran APBD.

Anies tidak seperti Ahok yang akan menggebrak meja dengan geram melihat modus-modus setan-setan jalang menggerogoti APBD.

Anies tidak seperti Ahok yang begitu baik pemahaman teknisnya.

Anies tidak seperti Ahok yang begitu murka melihat bobroknya moral-moral PNS DKI Jakarta, begitu buruknya pelayanan mereka pada masyarakat, begitu liciknya mereka bermain anggaran.

Anies hanya seorang Anies dengan cara dan sikapnya sendiri. Di sini kita akan melihat karakter asli seorang Anies Baswedan saat diberikan jabatan Gubernur, saat diberikan kekuasan.


Karakter Ahok sudah terlihat setelah dia menjabat. Ahok begitu garang melawan setan-setan jalang, dia tetap melawan dengan gigih walau dikepung dengan tekanan-tekanan dari semua arah. Karakternya sudah jelas terlihat saat dia berhadapan dengan warga di balai kota dengan seragamnya setiap pagi, setiap dicecar wartawan, setiap ditekan oposisi dan setan-setan jalang.

Jadi... Seperti apa karakter asli Anies Baswedan nanti?

Seberapa tangguh dia menghadapi tekanan yang hebat selama beberapa tahun ke depan?

Brace yourself, Mr. Baswedan. Winter is here...


Comments

Popular posts from this blog

Ton Tangkas : Ketika Prajurit TNI AD dari Seluruh Indonesia Berkompetisi

Berapa Banyak Teman yang Ingat Ulang Tahunmu?

LDR : 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Putusin Pacar Kamu